20 January 2009

rumah (untuk) burung


Fenomena menarik terjadi di kota Ketapang, Kalimantan Barat, di mana banyak bangunan yang beralih fungsi dari rumah tinggal, ruko dan fungsi lainnya menuju satu fungsi, Rumah Walet. Beberapa bangunan baru berlantai 3-4 bahkan sengaja dibangun untuk mendapatkan air liur sang burung yang konon mencapai harga 10-16 juta rupiah per kilogramnya.


Satu kawasan secara serentak beralih fungsi menjadi kawasan walet, setiap sore hari burung-burung mahal tersebut kembali ke 'rumah' mereka, sedangkan beberapa rumah lainnya terus berupaya merayu walet-walet tersebut untuk menetap dengan memutar suara walet melalui perangkat audio. Suara yang khas itu pun memenuhi kawasan tersebut, dan menciptakan suasana yang unik dan menarik.






Di bagian lain, beberapa bangunan baru dibangun untuk menarik walet-walet yang belum memiliki 'tempat tinggal', desain bangunan dan sistem struktur serta finishing yang digunakan bukanlan sesuatu yang dibuat asal, melainkan hadir layaknya produk properti lainnya yang dibangun oleh para pengembang. Apabila mengacu pada apa yang dapat dihasilkan oleh burung ini, wajarlah jika mereka mendapatkan perlakuan istimewa, namun apa yang terjadi dengan ruang kota dan arsitektur di dalamnya? (kalatrafa)

05 January 2009

Kota dengan dua wajah


Palangkaraya, kota yang seakan memiliki dua wajah ini memiliki nilai emosional tersendiri bagi saya. Memiliki dua wajah, karena di satu sisi tumbuh dan berkembang sebagaimana kota-kota lain di Indonesia, sedangkan di sisi lain seakan memiliki keinginan kuat untuk tetap bertahan dalam tradisi.

Wajah ke dua justru memiliki nilai yang sangat bermakna bagi saya, karena terbentuk secara jujur, dan mempertahankan budaya serta karakter geografis yang dimilikinya. Berbeda dengan wajah pertama, yang mulai kehilangan jati diri karena telah diisi oleh arsitektur yang entah datang dari mana (terutama pada rumah tinggal dan perumahan), wajah ke dua dibentuk oleh permukiman tepian sungai yang terdiri atas beberapa rumah terapung maupun rumah-rumah panggung.

Sebagaimana keberadaannya, permukiman tepian sungai Kahayan dibentuk oleh suatu kebutuhan yang jujur terhadap fungsi, bentuk, maupun layout bangunan. Bangunan-bangunan yang berada persis ditepian sungai atau di badan sungai dirancang dengan konsep terapung dengan menggunakan kayu gelondongan atau pun drum-drum bekas sebagai dasar keterapungannya. Hal ini sangat wajar mengingat tinggi permukaan air sungai yang tak menentu, terutama pada saat peralihan musim.

Semakin mengarah ke darat, rumah-rumah terapung bermetamorfosis menjadi rumah panggung dengan ketinggian mencapai 2-4 meter, ketinggian yang juga dipengaruhi oleh jarak yang dimilikinya terhadap badan sungai. Secara messo, tata letak bangunan terpola dalam grid-grid yang dibentuk oleh regulating line atas bangunan-bangunan yang berada di darat (cenderung teratur) serta sisi sungai yang bersifat dinamis.

Rumah-rumah panggung yang memiliki ketinggian mencapai 2-4 meter diakomodasi dengan jalur transportasi berupa titian berbahan kayu yang dapat dilalui oleh pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Jalur ini pulalah yang menjadi ruang publik dan menghubungkan ruang-ruang privat maupun ruag publik lainnya.

Dalam konteks kota, permukiman tepian sungai Kahayan seharusnya berperan sebagai edge bila mengacu pada teori Kevin Lynch. Namun pada kenyataannya, permukiman tepian sungai ini justru membentuk ruang, karena di sis yang lain juga berkembang permukiman dengan pola dan konsep yang sama. Orientasi permukiman di ke dua sisi sungai ini saling berhadapan dan memunggungi kota, sehingga membentuk sebuah ruang yang sangat kuat, terlebih aktivitas yang terjadi di sungai memiliki intensitas yang sangat tinggi, baik sebagai jalur transportasi maupun transaksi.
Desain bangunan tepian sungai Kahayan sangat wajar dan jujur, tak ada keinginan untuk tampil dominan, baik dari segi bentuk, material, dimensi maupun orientasi. Kesemuanya seolah sejalan dengan kondisi iklim, geografis dan budaya, demikian pula halnya dengan pola hidup, serta ketergantungan (atau mungkin penghargaan) terhadap keberadaan dan peran penting sebuah sungai. (monang manurung)

13 December 2008

bali: identitas ‘kegunaan’ dan ‘keberadaan’

Berada di Bali selalu membuat saya besemangat, atmosfer yang berbeda dari pulau indah inilah yang menghantar pada kondisi tersebut. Budaya yang kental dan senantiasa dijaga dari masa ke masa, tidak hanya tervisualisasi pada berbagai upacara keagamaan yang kerap tersaji, namun pola hidup, dan ketaatan pada tradisi senantiasa terjaga.

Hal ini membuat pulau ini menjadi sesuatu yang berbeda, bahkan meski globalisasi kerap melingkupinya. Arsitektur pun seolah sadar akan adanya identitas yang kental ini. Berbeda dengan daerah lain yang berlomba memasukkan unsur antah berantah dalam penataan kota dan lingkungan visualnya, untuk mencapai satu kata; ‘modern’, atau kata lainnya; ‘internasional’. Arsitektur di Bali tetap dapat dikatakan ‘Bali’. Kesadaran akan budaya, adat-istiadat dan lingkungan tropis membawa arsitektur menjadi bagian tak terpisahkan dari atmosfer yang terbentuk.

Sesuatu yang perlu ditekankan adalah, ke-Bali-an yang terpancar dari berbagai karya arsitektur, bukan sesuatu yang latah, atau sebuah ‘pakaian’ yang dikenakan hanya untuk dikatakan kontekstual, namun sesuatu yang memang berangkat dari kebutuhan mendasar, yaitu: identitas. Bangunan-bangunan tersebut, walaupun hadir dengan gaya yang sama, Bali, namun tetap dapat dibaca fungsinya secara visual. Apakah bangunan pemerintahan, pendidikan, hotel, maupun tempat ibadah, tetap dapat dibedakan, karena identitas ke-guna-annya pun tetap dipertahankan, sebagaimana identitas keberadaannya.

Gambar gereja di samping ini hanyalah salah satu contoh kecil, bagaimana fungsi bangunan tetap dapat berjalan dengan baik, serta tetap mampu melayani aktivitas yang dipercayakan padanya, meski secara visual memancarkan atmosfer lokal, Bali.

Dari sini jelas, bahwa identitas ‘kegunaan’ tetap dapat berjalan beriringan dengan identitas ‘keberadaan’ dan dapat bersinergi membentuk jati diri yang justru semakin kuat. Tanpa berusaha menisbikan salah satu di antaranya, dengan memasukkan unsur yang bukan darinya, arsitektur lokal akan mampu membentuk atmosfer yang kuat dan menjadikan globalisasi hanya sebagai penonton dan bukannya pemain. (monang manurung)

03 December 2008

silodam: hunian vertikal di atas air


Judul di atas merupakan paparan saya yang termuat pada Tabloid Rumah Edisi 149/VI 25 November-08 Desember 2008 (foto sampul: Tabloid Rumah). Silodam merupakan sebuah hunian vertikal atau apartemen yang berada di permukaan sungai, di kota Rotterdam, hadir dari meja gambar sebuah biro arsitektur terkenal Belanda, MVRDV.
Kehadirannya, dengan penyelesaian berbagai masalah desain, seolah dapat menjawab kebutuhan pendekatan yang sama bagi hunian vertikal di Indonesia baik bagi apartemen, maupun Rusunawa (rumah susun sewa) dan Rusunami (rumah susun milik). Pada artikel tersebut, secara lebih panjang lebar, telah saya jabarkan mengenai tinjauan desain arsitektural, kebutuhan ruang apartemen, serta tinjauan sistem struktur dan konstruksi, selamat membaca. (monang manurung)

the peak: ruang visual hong kong



The Peak atau juga disebut sebagai Victoria Peak, merupakan sebuah bangunan yang berbentuk lengkung pada bagian vertikalnya dengan dilapisi bahan metal pada seluruh bidang permukaannya, memberikan kesan sebuah bangunan yang sangat futuristik. Pencapaian lokasi ini dilakukan dengan menggunakan funicular dengan kemiringan lebih dari empat puluh lima derajat.

Namun, bagi saya yang membuat bangunan ini menjadi istimewa adalah ruang yang disediakannya, sebuah ruang dengan perbedaan elevasi yang sangat tinggi dengan Central, Hong Kong. Dari puncak bangunan, sajian visual seolah merangkul seluruh bangunan yang ada di Hong Kong. Berbagai bangunan tertinggi di dunia, termasuk Bank of China karya I.M.Pei pun tersaji secara visual.

Dari ruang ini pula, kita dapat menyaksikan relasi antara lingkungan alam dengan lingkungan binaan yang sangat kontras, namun tetap dapat berdampingan dengan baik. Dalam kondisi langit yang cerah, informasi visual pun akan semakin luas menjangkau, Victoria Harbor, Tsim Sha Tsui, Kowloon, sampai pada hijaunya kawasan New Territories.
(monang manurung)

g e r e j a b l e n d u k



Memasuki kawasan Kota Lama Semarang memberikan satu atmosfer yang sangat berbeda dengan kawasan lain di Semarang, bahkan di Indonesia. Kota Lama yang dulunya dikenal sebagai kota benteng, merupakan kawasan yang didirikan pemerintah kolonial Belanda pada masa penjajahan, dengan sajian visual berupa bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur kolonial Belanda. Berada di pusat kawasan, sajian visual terasa lebih memesona dengan keberadaan sebuah Gereja yang saat ini pun masih mampu memainkan perannya sebagai tetenger kawasan.

Gereja Blenduk, sebuah bangunan yang dibangun pada tahun 1753, dan pada jaman Belanda dikenal sebagai ‘de Nederlandsche Indische Kerk in Indonesia Semarang’, dirancang oleh arsitek Belanda bernama H.P.A. de Wilde dan Westmaas, sebagaimana tertulis pada kolom yang terletak di belakang mimbar. Gereja Blenduk mengalami perubahan pada tahun 1794 menjadi berbentuk kubah, serta mengalami penambahan manara di tahun 1895. Gereja Blenduk sendiri saat ini menjadi landmark kawasan kota lama dan terletak di jalan Soeprapto (Heerenstraat).

Di sisi timur Gereja Blenduk terdapat sebuah taman bernama Taman Srigunting yang pada masa pemerintahan Belanda dikenal dengan nama paradeplein dan berfungsi sebagai tempat berlangsungnya parade militer. Bentuknya yang unik, dengan kubah yang melingkupi bangunan serta adannya dua menara dan empat kolom besar yang memperkuat fasade bangunan, membuat bangunan ini berbeda dengan bangunan gereja lainya di Semarang maupun di nusantara. Hal ini membawa Gereja Blenduk menjadi symbol dan tetenger kota semarang. (monang manurung)

pendekatan sosial pada desain rumah susun


Kebijakan pemerintah dalam upaya menyediakan 1000 rumah susun, bisa jadi merupakan terwujudnya sebuah harapan bagi sebagian besar masyarakat menengah ke bawah yang tinggal di ibukota. Kebutuhan akan hunian yang dekat dengan lokasi mencari nafkah, tampaknya mampu menjawab masaah yang ditimbulkan oleh jarak dan kemacetan kota besar.

Namun, tanpa pendekatan sosial pada proses perancangannya, mampukah rusunawa dan rusunami menjawab kebutuhan sosial masyarakat kita? Mereka yang terbiasa bersosialisasi secara horisontal, seolah diletakkan dan dijauhkan dari komunitasnya. Mereka yang terbiasa didatangi penjual sayur, abang tukang bakso, dan bahkan pedagang kelontong, akan diletakkan di lantai sepuluh, dua puluh atau bahkan lebih.

Belum lagi persoalan yang timbul akibat gayahidup (yang mungkin) cukup jauh dari teknologi, bagaimana menggunakan lift, dsb? Bagaimana pula dengan ruang bermain anak-anak? Akankah mereka bermain di dalam sebuah lift?

Berbagai pertanyaan terkait tampaknya harus dijawab dalam desain yang akan diwujudkan, desain yang tentu saja berbeda dengan apa yang dilakukan para pengembang terhadap apartemen-apartemen mewah. Tulisan saya dengan judul yang sama, secara lebih dalam telah dimuat di majalah Building Indonesia Edisi 25 Juni-Juli 2008. (monang manurung)